Bolehkan aku berkenalan denganmu?

Bolehkah aku berkenalan denganmu?

Berkenalan dengan masalahmu dan bagaimana caramu mengatasinya? aku ingin ikut di dalamnya.

Berkenalan dengan hal-hal yang membuatmu tersenyum dan bagaimana kau menciptakannya? aku ingin ikut menghidupkannya.

Dan di antara semua itu ajaklah aku berkenalan dengan dirimu yang sebenarnya.

Yang tidak tersenyum kala sore itu, disaat segala sendu menyelimuti,

Yang tidak tabah ketika rasanya seluruh dunia memusuhi,

Seribu wajah yang kau tampakkan, ajaklah aku bertemu dengan yang satu. yang sebenarnya kau. yang seutuhnya kau.

Jadi, bolehkah aku berkenalan denganmu?

-Asa, 060517

Percakapan

“Kembalikan,”

Dia menatapku dalam, ku berusaha tak tenggelam

“Ku bilang kembalikan,”

Dari sekian juta kali kuperhatikan tatapannya, baru kali ini aku lihat tatapannya nanar. apa boleh buat, harus kukatakan.

“Kau curi hatiku waktu itu tiba-tiba dan kemudian hilang tanpa permisi. sudah cukupkah kau rusaki?”

-Asa, 050517

Percakapan Tuan Nona Pt.2

Tuan : Hei, kau tahu mengapa Tuhan menciptakan senyum?

Nona menggeleng lirih

Tuan : Senyum itu luar biasa, lho. ia dapat dimengerti oleh seluruh makhluk di belahan bumi manapun. Coba saja kau buktikan. Pergi kau ke Zimbabwe maupun Tiongkok, ketika kau tersenyum, artinya akan sama. Mengindikasikan bahwa kau bahagia

Tuan tersenyum.

Tuan : Begitupula wajah murung dan air mata. Hapus, Na. Hapus! Jika tidak, seluruh dunia akan tahu bahwa kau bersedih!

-Asa, 020217

Percakapan Tuan Nona Pt.1

Tuan : Berangkat jam berapa?

Nona : rumahku jauh, mungkin jam setengah enam.

Tuan : jadi? kau sarapan dijalan?

Nona : Iya, kenapa kau bisa tahu?

Tuan : Kamu pernah bercerita beberapa ratus senja yang lalu.

Nona : Wah? Ingatan kau kuat juga ya.

Tuan : Ya, begitulah ingatan. kadang dipakai untuk memutar ulang hal yang mungkin takkan terulang.

Nona : Lho, ini kan terulang?

Tuan : Maksudnya, momen kau bercerita tentang itu yang takkan terulang

-Asa, 010217

Kilas Balik

Masihkah kamu mengingat,

dimana dulu kita bertemu?

Di ruang-ruang kelas yang kelabu,

atau jalanan yang lengang?

Pernahkah kamu mengingatnya?

Kapan dulu kita bertemu?

Diantara musim kemarau yang hangat,

atau ketika hujan membasahi halamanmu?

Pernahkah kamu mencatatnya?

Lupa.

Berdegupkah hatiku saat itu?

atau kamu? berdegupkah hatimu?

Lupa.

Rasanya tidak ada yang pernah tahu

atau berandai-andai bagaimana Tuhan membawamu

bahkan, seorang kawan kelas biasa,

yang kau lupa seperti apa ia dulu

dapat menjadi orang yang membuatmu gugup

sekali tatap

-Asa, 030317